Minggu, 01 November 2009

Simple Chapter Skenario Film Perjalanan Kenangan

FLASHES:

RANGKAIAN ADEGAN MELATAR-BELAKANGI CREDIT TITLE.

-(Ext. Pantai – Pagi). Dari laut tenang di lepas pantai, berlatar-belakang gunung dengan awan putih berarak di atasnya.

RINA (V.O.)
Jika pujangga cinta memanggilmu. Datanglah. Cinta akan membawamu mendaki gunung.

-(Ext. Tebing – Jurang – Kawah – Pagi). Sebuah tebing tinggi menghadap ke laut. Jurang dalam, dan kawah aktif yang diselimuti kabut belerang.

RINA (V.O.) (CONT’D)
Di sana tebing, jurang, magma.

-(Ext. Hutan – Siang). Sungai deras membelah hutan tropis.

RINA (V.O.) (CONT’D)
Terhampar permadani hijau berseri.

-(Ext. Air Terjun – Sore). Dari gemericik air di telaga ke puncak air terjun.

RINA (V.O.) (CONT’D)
Sungai, sutra bertingkat.

-(Ext. Laut – Kapal Nelayan – Malam). Berawal dari layar yang dikembangkan, kapal melaju di laut lepas.

RINA (V.O.) (CONT’D)
Bila kidung cinta menuntunmu. Ikutilah. Kembangkan layar menuju laut harapan.

CUT TO:

Laut diliput badai. Sebuah kapal terombang-ambing dihantam badai.

RINA (V.O.) (CONT’D)
Ombak, gelombang, badai.

LAP DISSOLVE:

-(Ext. Pantai – Kapal Nelayan dan Kapal Pesiar Mewah – Siang). Dari untaian mutiara yang berkilauan, ke jaring yang direntangkan, lalu ikan-ikan berluncuran di atas dek kapal.

RINA (V.O.) (CONT’D)
Mutiara. Terbentang karunia.

Kapal pesiar mewah melintasi tepi pantai yang indah.

RINA (V.O.) (CONT’D)
Angin, pembawa kabar gembira.

LAP DISSOLVE:

-(Ext. Alun-alun Kota Tua – Sore). Kawanan burung merpati terbang di atas alun-alun kota tua, bertengger di ranting pohon rindang dan gedung kuno.

RINA (V.O.) (CONT’D)
Bila bait cinta menyerumu. Terbanglah. Bentangkan sayap bagai pujian surgawi.

-(Ext. Pesisir Pantai – Malam). Kilat, petir dan badai, melanda daerah pesisir pantai dengan laut yang bergejolak.

RINA (V.O.) (CONT’D)
Kilat, petir, pusaran angin.

LAP DISSOLVE:

-(Ext. Gunung – Pagi). Matahari terbit di balik pegunungan di langit yang cerah.

RINA (V.O.) (CONT’D)
Tempat matahari terbit.

-(Ext. Langit – Malam). Di langit, bulan purnama dihiasi bintang-bintang.

RINA (V.O.) (CONT’D)
Bulan terbenam, bintang gemerlap.

-(Ext. Perempatan Jalan – Pagi). Setelah lampu lalu-lintas berwarna kuning, kendaraan melaju.


RINA (V.O.) (CONT’D)
Namun, ke mana pun cintamu berlayar.

-(Ext. Bandara dan Pelabuhan Tua – Siang). Pesawat mendarat di landasan. Kapal tua berlabuh di dermaga tua.

RINA (V.O.) (CONT’D)
Berlabuhlah. Berlabuhlah di dermaga penuh restu.

Seorang wanita tua berpakaian tradisional duduk termangu di tepi dermaga, berpaling ke kapal yang bersandar.

RINA (V.O.) (CONT’D)
Cinta abadi Sang Ibu.

Para penumpang berlalu meninggalkan wanita tua tersebut.

RINA (V.O.) (CONT’D)
Dalam diam memanggil.

Wanita tua itu kembali tertunduk sendu.

RINA (V.O.) (CONT’D)
Dalam diam berdoa.

LAP DISSOLVE:

-(Ext. Taman Bunga – Siang). Sekuntum bunga anggrek bulan mekar di taman bunga.


RINA (V.O.) (CONT’D)
Bagi tunas-tunas taman eden.

CUT TO:

EXT. JALAN RAYA – LINTASAN KERETA – MALAM.

Warna-warni lampu kendaraan berkelebat cepat di atas jembatan Semanggi. Beberapa SHOT ruas jalan macet, di antara gedung-gedung pencakar langit.
Sebuah kereta KRL melaju di bawah jembatan layang yang dipadati kendaraan. Pemukiman penduduk berkelebat cepat. Begitu juga pohon-pohon dan deretan lampu pijar.
Kereta KRL melewati stasiun dengan deretan bangku kosong di peron.

CUT TO:

EXT. JALANAN – TAKSI – MALAM.

Dari puncak gedung perkantoran, melintas taksi di bawahnya. Dikemacetan lalu-lintas.
Di jok belakang, Rina, 21 tahun, duduk gelisah, sesekali melirik jam tangan, lalu berpaling ke luar jendela.
Di sisi kiri, deretan pohon berdiri di tepi sungai. Lampu penerang jalan redup. Angin kencang bertiup. Menerbangkan daun-daun kering.
Di seberang sungai, suasana amat gelap. Dan mendadak terang benderang dari lampu kereta KRL yang melaju cepat. Lalu kembali gelap.
Dengan jenuh Rina menoleh ke depan. Macet. Rina melirik jam tangan, dan semakin gelisah.

CUT TO:

INT. RUMAH SAKIT – RUANG RAWAT INAP – MALAM.

Di tempat tidur, Ibu tertidur. Wajahnya pucat dan tubuhnya kurus kering. Tanda-tanda usia tua terlihat jelas di wajahnya, yang baru berusia 45 tahun. Tulang pipinya menonjol. Masker ok-sigen yang dipakai tidak mampu menutupi wajah Ibu yang kurus. Rambutnya sebagian telah beruban dan tipis. Jarum infus menusuk lengannya yang kurus.

CUT TO:

EXT. JALANAN – TAKSI – MALAM.

Mata Rina berkaca-kaca, tertunduk sedih.

CUT TO:

FLASHBACK

EXT. ESTABLISHING SHOT: RUMAH RINA – MALAM.

CUT TO:

INT. RUMAH RINA – RUANG TAMU – MALAM.

Ibu berdiri menghadap ke dinding. Di depannya ada buffet panjang ditutupi taplak meja. Di atasnya ada vas bunga dan hiasan keramik. Juga beberapa bingkai foto Ibu bersama Ayah dan Rina.
Perlahan tangan Ibu gemetar, terjulur kaku ke paku yang tertancap di dinding. Wajah Ibu pucat penuh kesedihan. Bibirnya gemetar. Mata-nya berkaca-kaca.
Di dinding terdapat foto keluarga Rina. Dari kiri ke kanan, foto Ayah dan Ibu, foto Rina berusia 20 tahun, dinding kosong yang hanya ada tiga buah paku tertancap di sana tanpa ada bingkai foto, lalu kembali foto Rina berusia 20 tahun, terakhir foto Ayah dan Ibu.
Tangan Ibu semakin mendekati paku. Keringat membasahi kening Ibu, sedang tangan kirinya memegang dada. Menahan nyeri.
POV Ibu yang memandang BLURRED dinding di depannya, lalu jatuh berlutut. Mencoba bertahan dengan menarik taplak meja dengan tangan kanannya.
Saat Ibu jatuh ke lantai, taplak meja ikut tertarik bersamanya, berikut perabotan di atas buffet. Semua berjatuhan ke lantai. Menimbulkan suara keras pecahan keramik dan kaca.

CUT TO:

Dari lantai atas kamera FLASH SHOT Rina yang berlari cemas menuruni tangga. Terkejut melihat Ibu tergeletak pingsan di lantai yang penuh dengan pecahan keramik dan kaca.

RINA
(Teriak)
Ibuuu…!!!

Rina berlari memeluk Ibu. Dari keningnya darah mengalir terkena pecahan kaca. Melihatnya Rina menjerit, menangis, memeluk Ibu di pangkuannya, berlatar-belakang foto keluarga Rina di dinding.

FLASHBACK BERAKHIR

CUT TO:

EXT. ESTABLISHING SHOT: STASIUN GAMBIR – MALAM.

CUT TO:

EXT/INT. STASIUN GAMBIR – MALAM.

Rina menghapus airmatanya. Turun dari taksi, Rina berjalan ke loket karcis jurusan Jakarta-Yogyakarta, lalu naik ke lantai atas stasiun.

CUT TO:

EXT. STASIUN GAMBIR – KERETA API – MALAM.

Rina masuk ke gerbong kereta, mencari tempat duduk.

CUT TO:

Rina memandang ke luar jendela. Perlahan kereta meninggalkan stasiun. POV dari jendela Rina, terlihat para pengantar yang menjauh di peron berlatar-belakang Tugu Monas. Lalu POV dari luar jendela, Rina yang berpaling dan merunduk sedih.

FLASHBACK

CUT TO:

INT. RUMAH SAKIT – RUANG TUNGGU – SORE.

Kamera CLOSE UP dua tangan perempuan yang duduk berhadapan.

TANTE OCTA (O.S.)
(Mengulurkan secarik kertas)
Ini alamat Rani. Cepat cari dan jemput dia, sebelum penyakit Ibumu makin parah.

Rina menerima selembar kertas yang diberikan Tante Octa.

TANTE OCTA (CONT’D) (O.S.)
Ingat! Kamu harus menemukannya!

Rina menggenggam kertas itu erat-erat.

FLASHBACK BERAKHIR

CUT TO:

EXT. LINTASAN KERETA API – KERETA API – MALAM.

Rina memegang selembar kertas, memandanginya dengan mata berkaca-kaca.
Rina menghapus air matanya, menatap sendu ke luar jendela. POV Rina melihat kawasan pemukiman kumuh.

RINA (V.O.)
Aku harus pergi. Semua salahku. Sekarang aku harus menebusnya. Aku enggak mungkin biarin Ibu terus-terusan sakit.

RINA (V.O.) (CONT’D)
(Menangis)
Gimana pun, aku harus pergi!

CUT TO:

Kareta melintasi salah satu rel yang bercabang-cabang.

CUT TO:

Sepanjang perjalanan, Rina termangu, memandang ke luar jendela dengan sendu.

CUT TO:

ESTABLISHING SHOT: STASIUN TUGU – PAGI.

CUT TO:

EXT/INT. STASIUN TUGU – PAGI.

Roda kereta memasuki stasiun. Kereta api lalu berhenti. Dari gerbong kereta, Rina turun bersama para penumpang menuju:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar